Saya sudah sering membahas, salah satu program de-radikalisasi yang sebenarnya de-Islamisasi, adalah menghancurkan reputasi 'sender', sang pengirim pesan
Karena de-Islamisasi ini bertopengkan de-radikalisasi, maka yang ditarget mereka namakan radikal, dan itu semua pasti asatidz atau ulama yang berseberangan
Penguasa kini, menginginkana agar Islam tidak lagi punya pengaruh dalam kehidupan, dan semua yang mereka anggap menginginkan tegaknya Islam adalah radikal
Siapa pemimpin mereka yang merindukan tegaknya Islam ini? Tentu para ulama dan asatidz, dan inilah target mereka untuk dijatuhkan martabatnya
Artinya, bila anda bukan ulama, asatidz atau habaaib yang ikhlas, anda bebas berbicara apa saja, takkan dianggap radikal, karena anda bukan pengemban dakwah
Mereka bisa bicara "Presiden itu kacung gue, gue bakar rumahnya", anda bisa bilang "Kita harus bunuh mereka (Muslim) semua", dan apa saja yang lebih keji lagi
Tidak akan ada jeratan ujaran kebencian, walau mereka bilang, "Bendera tauhid itu bendera teroris", walau mereka kata, "Indonesia ada karena pasukan cina", apa saja
Tapi begitu ulama yang jauh dari kekuasaan, tak mau diatur lidahnya untuk menjilat, menyampaikan yang haq, sedikit apapun ucapan akan dijadikan barang bukti
Jangankan yang ada, yang tidak ada saja bisa jadi ada. Chat mesum, pencucian uang, hate-speech, intoleran, penghinaan presiden, penganiayaan anak, you name it
Keadilan memang sudah hilang, tindakan dzalim dipertontonkan secara masif dan terbuka. Dan saya jadi paham, kenapa mereka bolehkan orang gila nyoblos
Dan kita menyaksikan, kriminalisasi ulama kembali terjadi. Tinggal tunggu waktu saja, hari ini yang radikal, besok yang setenah radikal, lusa semua ulama
Karena yang mereka maksud dengan de-radikalisasi sebenarnya adalah de-Islamisasi. Mereka takkan berhenti, takkan ridha sebelum Islam tunduk pada cara mereka
Banyak-banyak berdoa pada Allah, hari-hari penuh kesabaran menanti di depan. Bagi kita istiqamah dalam dakwah, itu kunci pertolongan Allah
Comments
safwadi
Gawat ka jino

